Nama : Putri Alifia
NPM : 15512752
Kelas : 2PA06
NPM : 15512752
Kelas : 2PA06
CALEG STRESS DAN
ANALISIS KESEHATAN MENTAL MEREKA MENURUT ROGERS
Stres memang
tidak dapat dihindari dalam profesi apapun, termasuk bagi para calon legislatif
(caleg). Namun para caleg menghadapi risiko stres yang lebih tinggi. Jika stres
sangat tinggi dan daya tahannya rendah, bukan tidak mungkin mereka mengalami
gangguan kejiwaan.
Dokter spesialis kejiwaan Andri mengatakan, risiko stres dan aktivitas nyaleg memiliki hubungan yang erat. Kompetisi merebut kursi legislatif memang sangat sengit. Jika mereka tidak terpilih, mereka bukan cuma menanggung malu tapi juga kehilangan harta yang tidak sedikit.
"Setidaknya ada dua hal yang paling berpengaruh pada risiko stres yang dialami para caleg," ujar dokter Andri saat dihubungi Kompas Health pada Selasa (8/4/2014).
Pertama, hutang biaya kampanye yang harus dibayarkan jika seorang caleg tidak terpilih. Biaya kampanye tentu tidak kecil. Tidak sedikit pula caleg yang berhutang atau sampai menggandaikan rumah dan hartanya untuk mendanai kampanyenya.
"Dulu caleg identik dengan orang yang mampu karena kita tahu biaya kampanye tidak kecil. Namun kini banyak juga orang yang nekad berhutang demi menjadi caleg. Masalahnya, ketika mereka tidak terpilih dan tidak bisa membayarkan hutangnya, itu bisa menjadi stresor (pemicu stres) yang sangat berpengaruh," tutur Andri.
Kedua, hal yang paling mungkin membuat stres yaitu ketidakmampuan memenuhi janji pada orang-orang yang berpengaruh di dalam pencalonannya. Menurut Andri, untuk mendapatkan suara di daerah pemilihannya, para caleg sudah mengumbar janji. Sehingga ketika janji tersebut tidak bisa dipenuhi mereka menjadi tertekan. Jika tidak dikelola dengan baik akibatnya adalah stres, bahkan gangguan kejiwaan.
Menurut Andri, risiko stres lebih tinggi pada caleg yang belum memiliki pengalaman sebelumnya. Alasannya, mereka mungkin belum mengetahui cara yang paling efektif untuk mengendalikan stres.
"Berbeda dengan caleg yang sudah ada pengalaman sebelumnya, kebanyakan mereka mungkin telah mengalami stres di pemilihan sebelumnya sehingga lebih siap menghadapi pemilihan kali ini," kata dokter yang berpraktik di RS Omni Alam Sutera, Tangerang Selatan,ini.
Andri menilai, caleg baru perlu mendapat perhatian lebih. Apalagi jika mereka secara biologis dan psikologis lebih rentan mengalami stress.
Dokter spesialis kejiwaan Andri mengatakan, risiko stres dan aktivitas nyaleg memiliki hubungan yang erat. Kompetisi merebut kursi legislatif memang sangat sengit. Jika mereka tidak terpilih, mereka bukan cuma menanggung malu tapi juga kehilangan harta yang tidak sedikit.
"Setidaknya ada dua hal yang paling berpengaruh pada risiko stres yang dialami para caleg," ujar dokter Andri saat dihubungi Kompas Health pada Selasa (8/4/2014).
Pertama, hutang biaya kampanye yang harus dibayarkan jika seorang caleg tidak terpilih. Biaya kampanye tentu tidak kecil. Tidak sedikit pula caleg yang berhutang atau sampai menggandaikan rumah dan hartanya untuk mendanai kampanyenya.
"Dulu caleg identik dengan orang yang mampu karena kita tahu biaya kampanye tidak kecil. Namun kini banyak juga orang yang nekad berhutang demi menjadi caleg. Masalahnya, ketika mereka tidak terpilih dan tidak bisa membayarkan hutangnya, itu bisa menjadi stresor (pemicu stres) yang sangat berpengaruh," tutur Andri.
Kedua, hal yang paling mungkin membuat stres yaitu ketidakmampuan memenuhi janji pada orang-orang yang berpengaruh di dalam pencalonannya. Menurut Andri, untuk mendapatkan suara di daerah pemilihannya, para caleg sudah mengumbar janji. Sehingga ketika janji tersebut tidak bisa dipenuhi mereka menjadi tertekan. Jika tidak dikelola dengan baik akibatnya adalah stres, bahkan gangguan kejiwaan.
Menurut Andri, risiko stres lebih tinggi pada caleg yang belum memiliki pengalaman sebelumnya. Alasannya, mereka mungkin belum mengetahui cara yang paling efektif untuk mengendalikan stres.
"Berbeda dengan caleg yang sudah ada pengalaman sebelumnya, kebanyakan mereka mungkin telah mengalami stres di pemilihan sebelumnya sehingga lebih siap menghadapi pemilihan kali ini," kata dokter yang berpraktik di RS Omni Alam Sutera, Tangerang Selatan,ini.
Andri menilai, caleg baru perlu mendapat perhatian lebih. Apalagi jika mereka secara biologis dan psikologis lebih rentan mengalami stress.
KESIMPULAN YANG SAYA DAPAT DARI TEORI CARL ROGERS
Pada kasus diatas saya
dapat menyimpulkan berdasarkan analisis kesehatan mental yang dikemukakan oleh
carl rogers yaitu tentang dua konsep diri Konsep diri (self
concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang
disadari dan disimbolisasikan. Jadi, self concept adalah kesadaran batin
yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku
dari yang bukan aku.
Kita dapat
membayangkan dari pernyataan rogers diatas bahwa ada yang menjembatani antara
keinginan dan kenyataan tentang bagaimana seseorang harus menyikapi kenyataan dengan logis dan harus lebih sadar
atas potensi yang dimiliki sekarang, apakah cukup atau belum untuk meraih
keinginan yang akan direalisasikan.
Konsep diri
terbagi menjadi 2 yaitu Reality dan Ideal Self yaitu Harapan dan kenyataan yang
ada didalam diri seseorang. Para caleg itu memiliki ideal self yang tinggi
namun pada kenyataannya potensi dan kemampuannya tidak mencukupi untuk menarik
hati rakyat untuk memilihnya sebagai anggota legislatif , disini dapat
disimpulkan bahwa reality self yang mereka miliki berbanding jauh atas apa yang
diharapkan mereka.
Manusia yang
memiliki mental sehat dapat menyeimbangkan 2 konsep diri tersebut, mereka akan
lebih sadar atas apa yang mampu mereka lakukan dan seberapa besar potensinya,
mereka akan memasang harapan yang memungkinkan untuk dicapai dan tidak terlalu
menaruh harapan yang berlebihan.