Sebenarnya apa itu ilmu psikologi? Dimana-dimana kita selalu
mendengar istilah psikologi, namun tak jarang ada dari kita yang tidak
mengerti apa arti dari psikologi itu. Banyak ahli yang memcoba
mendefinisikan arti dari psikologi. Awalnya para ahli psikologi
mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa. Namun ketika ditanya jiwa yang
mana itu tak seorangpun dapat menjawab karena pengertian jiwa itu
sendiri yang demikian abstrak.
Maka para ahli merubah definisi dari ilmu
jiwa menjadi ilmu tentang perilaku manusia. Tentang manusia, karena
sifatnya yang unik dan banyaknya tingkah laku manusia yang ada kaitannya
dengna jiwa. Dari berbagai definisi saya memperoleh kesimpulan bahwa
psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku manusia yang cara
memperolehnya melalui metode-metode tertentu ( eksperimental,
non-eksperimental) dan telah memenuhi syarat ilmu. Perkembangan
psikologi itu sendiri terus mengalami peningkatan dari abad ke abad
hingga psikologi disebut ilmu yang mandiri atau otonom dengan
dibangunnya laboratorium Psikologi pertama di dunia di Leipzig pada
tahun 1979. Yang diteliti dalam laboratorium ini mengenai gejala
pengamatan dan tanggapan manusiaseperti persepsi, reproduksi, ingatan,
asosiasi dan fantasi. Yang merambah ilmu psikologi pada awalnya adalah
Plato. Dalam teorinya tentang “Pengingatan-Kembali”, Plato mengapungkan
dua proposisi.
Pertama, jiwa sudah ada sebelum adanya badan di alam yang
lebih tingggi daripada alam materi. Kedua, pengetahuan rasional tidak
lain adalah pengetahuan tentang realitas-realitas yang tetap di alam
yang lebih tinggi, yang oleh Plato disebut dengan archetypes. Plato,
dengan dua proposisi di atas, jelas menekankan lebih pentingnya jiwa
daripada raga dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, tubuh mempunyai
nilai yang lebih rendah dari jiwa. Akan tetapi, jiwa pun bisa rusak
juga, dan kerusakan itu berasal dari badan. Plato melihat hubungan jiwa
dan badan sebagai pembagian fungsi antara badan sebagai kapal dan jiwa
sebagai nahkodanya, yang mengemudikan dan memimpin. Berbeda dengan
Plato, Descrates melihat saling terkaitannya, yaitu jiwa pada
hakikatnya mengarah ke badan.
Kalau badan sakit, jiwa turut
merasakannya. Akan tetapi jiwalah yang memberi kesadaran dan arti pada
badan dan menunjukkan adanya ‘aku’. Keduanya berbeda namun saling
terkait. Badan dilukiskan sebagai mesin yang walaupun ada substansinya,
belum bisa dibilang manusia jika tidak ada jiwanya yang bisa mengatakan
‘aku’. Dan perkataan ‘aku’ ini lahir ketika substansi itu mulai
berfikir. Setelah kedua pandangan tersebut muncul pandangan-pandangan
lain tentang psikologi dan menyebabkan psikologi terus berkembang sampai
sekarang ini. Keberbedaan konsep psikologi yang satu dengan yang lain
menyebabkan adanya aliran-aliran psikologi, yang antara lain :
1. Strukturalisme
Tokoh psikologi Strukturalisme adalah Wilhelm Wundt. Yang mulai
berkembang pada abad ke19 yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai
suatu disiplin ilmu yang mandiri. Menurutnya untuk mempelajari
gejala-gejala kejiwaaan kita harus mempelajari isi dan struktur jiwa
seseorang. Metode yang digunakan adalah instrospeksi / Elemen mawas
diri. Obyek yang dipelajari dalam psikologi ini adalahKesadaran.
mental/elemen-elemen yang kecil :
1.Jiwa
2.Kesadaran
3. Penginderaan : penangkapan terhadap rangsang yang datang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil
Perasaaan sesuatu yang dimiliki dalam diri kita, tidak terlalu di pengaruh rangsangan dari luar.
2. Fungsionalisme
Tokohny adalah WILLIAM JAMES (1842-1910)
Pendapatnya:
- Mempelajari fungsi / tujuan akhir aktivitas
- Semua gejala psikis berpangkal pada pertanyaan dasar yaitu apakah gunanya aktivitas itu
• Jiwa seseorang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi
untuk menyesuaikan diri. Psikologi ini lebih menekankan apa tujuan atau
akhir dari suatu aktivitas
3. Psikoanalisis
Aliran behaviourisme dianggap gagal karena tidak memperhitungkan faktor
kesadaran manusia. Aliran behaviourisme tidak memperhitungkan faktor
pengalaman subjektif masing-masing individu (cinta, keberanian,
keimanan, harapan dan putus asa). Jadi aliran ini gagal memperhitungkan
kesadaran manusia dan motif-motif tidak sadarnya.
Kemudian muncullah aliran berikut: psikoanalisis. Psikoanalisis disebut sebagai
depth psychology
yang mencoba mencari sebab-sebab perilaku manusia pada alam tidak
sadarnya. Tokoh dari aliran ini adalah Sigmund Freud seorang neurolog
berasal dari Wina, Austria akhir abad ke-19. Aliran ini berpendapat
bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan
(homo volens).
Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan
otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa
mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak
kita sadari namun bisa kita akses
(preconscious) dan ada yang sulit kita bawa kea lam tidak sadar
(unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita, yaitu:
- Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
- Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.
- Ego, adalah pengawas realitas.
Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara yang diserahi mengelola uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai.
Id mengatakan pada Anda: “Pakai saja uang itu sebagian, toh tak ada yang tahu!”. Sedangkan
ego berkata:”Cek dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara
superego menegur:”Jangan lakukan!”.
Pada masa kanak-kanak kira dikendalikan sepenuhnya oleh
id, dan pada tahap ini oleh Freud disebut sebagai
primary process thinking.
Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat
memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat
dot misalnya).
Sedangkan
ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap
secondary process thinking.
Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk
memilih tidak jajan demi ingin menabung misalnya). Walau begitu
kadangkala pada orang dewasa muncul sikap seperti
primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong sampah karena merasa jengkel akibat dimarahi bos di kantor misalnya).
Proses pertama adalah apa yang dinamakan EQ
(emotional quotient), sedangkan proses kedua adalah IQ
(intelligence quotient) dan proses ketiga adalah SQ
(spiritual quotient).
4. Gestalt
Kata gesalt berasal dari bahasa Jerman yang dalam bahasa Inggris berarti
shape atau bentuk. Karena tidak ditemukan arti yang sesuai maka gesalt
tetap dipakai. Tokoh psikologi ini adalah MAX WERTHEIMER (1880-1943).
Pendapatnya : Bahwa dalam alat kejiwaan tidak terdapat jumlah
unsur-unsurnya melainkan Gestalt (keseluruhan) dan tiap-tiap bagian
tidak berarti dan bisa mempunyai arti kalau bersatu dalam hubungan
kesatuan.
5. Behaviorisme
Aliran ini sering dikatkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli
pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai
eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 - 1950-an.
Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains hanya
berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja.
Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam
psikologi. Aliran ini memandang manusia sebagai mesin
(homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman
(conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan
maladaptive behaviour atau
perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan
eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang
lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air
liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing
tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu
dinyalakan maka daging disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan,
sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air
liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing
menjadi
conditioned response dan cahaya lampu menjadi
conditioned stimulus.
Percobaan yang hampir sama dilakukan terhadap seorang anak berumur 11
bulan dengan seekor tikus putih. Setiap kali si anak akan memegang tikus
putih maka dipukullah sebatang besi dengan sangat keras sehingga
membuat si anak kaget. Begitu percobaan ini diulang terus menerus
sehingga pada taraf tertentu maka si anak akan menangis begitu hanya
melihat tikus putih tersebut. Bahkan setelah itu dia menjadi takut
dengan segala sesuatu yang berbulu: kelinci, anjing, baju berbulu dan
topeng Sinterklas. Ini yang dinamakan pelaziman dan untuk mengobatinya
kita bisa melakukan apa yang disebut sebagai kontrapelaziman
(counterconditioning).