Nama: Putri Alifia
NPM : 15512752
Kelas : 3PA06
KOMUNIKASI DALAM
MANAJEMEN
A.
Definisi Komunikasi
Kata komunikasi
berasal dari bahasa Latin communication yang berarti ‘pemberitahuan’ atau
‘pertukaran pikiran’. Jadi, secara garis besar, dalam suatu proses komunikasi
haruslah terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran
pikiran dan pengertian antara komunikator (penyyebar pesan) dan komunikan
(penerima pesan).
Ada tiga pengertian utama
komunikasi secara etimologis, terminologis, dan paradigmatis, yaitu:
1.
Secara etimologis, komunikasi dipelajari menurut asal-usul kata, yaitu
komunikasi berasal dari bahasa latin
‘communicatio’ dan perkataan ini bersumber pada kata ‘comminis’ yang berarti
sama makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.
2.
Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu
pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
3.
Secara paradigmatic, komunikasi berarti pola yang meliputi sejumlah
komponen berkorelasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Contohnya adalah ceramah, kuliah, dakwah, diplomasi, dan
sebagainya.
B.
Proses Komunikasi
Unsur-unsur dalam proses kominikasi antara
lain sebagai berikut.
1.
Pengiriman pesan (sender) atau komunikakator dan
materi/isi pesan
Pengrim pesan
adalah orang mempunyai satu paket ide untuk disampaikan kepada orang lain
dengan harapan pesannya dapat dipahami oleh penerima pesan sesuai yang
dimaksud. Materi pesan dapat berupa informasi, ajakan, rencana kerja,
pertanyaan, dan tanggapan.
2.
Bahasa pesan (coding)
Bahasa pesan
bertujuan untuk menyingkat pola pikir pengirim pesan ke bentuk bahasa, kode,
atau lambang lainnya sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasaya
leader atau manajer menyampaikan pesannya dalam bentuk kata-kata, gerakan
anggota badan (bahasa tubuh). Tujuan penyampaian pesan ini adalah untuk
mengajak, membujuk, mengubah sikap atau perilaku ke arah tujuan tertentu.
3.
Media
Pilihan media
dipengaruhi isi pesan yang harus disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi,
dan sebagainya. Media yang dapat digunakan antara lain telepon, radio, TV,
mikrofon, memo, surat, komputer, internet, foto, papan pengumuman, pertemuan,
lokakarya, seminar, rapat kerja, penerbitan, dan sebagainya.
4.
Mengertikan pesan (decoding)
Setelah pesan
diterima melalui indra, maka si penerima pesan harus dapat mengartikan bahasa
isyarat sesuai dengan isi pesan yang dimaksud.
5.
Penerima pesan (komunikasi)
Penerima pesan
ialah orang yang dapat memahami pesan sipengirim walaupun dalam bentuk snadi
tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim pesan.
6.
Balikan (respon si penerima pesan)
Balikan adalah
isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan ke pengirim pesan
dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan
tidak pernah mengetahui dengan pasti apakah pesannya dapat diterima sesuai
denga yang diharapkan. Balikan dapat disampaikan oleh si penerima pesan dan
atau oleh orang lain bukan menerima pesan. Dalam upaya balik terjadi komunikasi
dua arah. Komunikasi ini perlu terjadi untuk menghindari kesalah pahaman
(misscomunication) sehingga dapat diketahui bahwa si penerima pesan sudah
benar-benar memahami pesan.
C.
Hambatan Komunikasi
hal-hal yang menghambat komunikasi yakni:
1. Hambatan fisik
Hambatan fisik
menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fisik atau badan seseorang, misalnya
tuna rungu atau orang yang tidak bisa mendengar. Di sisi lain, hambatan fisik
seperti saya harus berbicara keras dengan nenek saya karena fungsi pendengarannya yang sudah berkurang.
Pesan saya kepada nenek pun terkadang tidak sesuai.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi
terhadap nenek saya ini atau orang yang memiliki fungsi pendengaran yang kurang
maka saya akan berbicara dengan ekspresi muka yang jelas dan suara lantang
sehingga bisa “terbaca”. Atau, informasi dituliskan sehingga nenek langsung
paham maksudnya.
Hambatan komunikasi juga bisa saja terjadi
apabila salah satu pihak memerlukan bahasa isyarat seperti pada orang tuna
wicara.
2. Hambatan kepribadian
Saya punya rekan
kerja seorang pria yang sangat pemalu. Ia hanya berbicara seperlunya. Ia tidak
punya sahabat dekat, saya pun dihitungnya sahabat baiknya. Ia mengatakan sudah
beberapa kali mengikuti training “public speaking”. Ia berujar bahwa sulit
baginya untuk memiliki topik pembicaraan dengan lawan jenis. Sifatnya yang
minder dan pemalu akhirnya menjadi hambatannya saat kencan dengan wanita meski
menurut saya, sahabat saya ini adalah pria rupawan.
Selain sifat pribadi di atas, orang-orang
introvert juga cenderung mengalami kesulitan untuk membangun percakapan pertama
kali.
Kepribadian seperti sanguinis tentu jarang
mengalami hambatan berkomunikasi. Mereka biasanya selalu punya topik
pembicaraan dalam benak mereka dan memiliki pribadi yang menarik komunikatif.
3. Hambatan usia
Tentu tahu bahwa
usia kadang menjadi hambatan saat kita berkomunikasi. Misalnya, anak takut
menyampaikan sesuatu kepada orangtuanya. Atau, saat orang tua bicara anak harus
diam mendengarkan, akibatnya komunikasi hanya terjadi satu arah saja.
Yang paling terkini misalnya, bagaimana
anak remaja sekarang (:baca Alay) menggunakan kalimat-kalimat slank yang sulit
dipahami oleh orang yang lebih tua. Kesenjangan usia memang harus dijembatani
dengan baik sehingga pesan yang disampaikan tercapai.
Di sekolah, kerap saya menemukan ada upaya
mediasi antara orangtua dengan anak melalui guru BP atau guru wali kelas agar
tidak terjadi hambatan komunikasi antara orangtua siswa dengan siswa.
4. Hambatan budaya
Hambatan budaya
dapat terlihat seperti yang pernah saya jumpai seorang perempuan saat saya
transit di Bandara Dubai. Ia membutuhkan informasi tapi saya tidak bisa
membalasnya (saat itu saya berbicara bahasa inggris) karena saya tidak
mendengar dengan jelas. Saya tidak bisa melihat ekspresi mukanya saat berbicara
karena dalam budayanya Ia harus mengenakan penutup mulut. Ia adalah perempuan
dari negara belahan Timur Tengah yang memang harus mengenakan busana demikian.
Atau misalnya, di Thailand untuk
mengucapkan kalimat “terimakasih” akan berbeda bila disampaikan perempuan
menjadi “Kopunka” sedangkan apabila laki-laki menjadi “Kopunkap”.
Untuk budaya tertentu misalnya perempuan
dalam berkomunikasi mendapat porsi nomor dua setelah ayah, suami dan kakak
laki-laki.
5. Hambatan bahasa
Bahasa kerap menjadi
hambatan bila kita berada di negara yang tidak sama bahasa ibu yang miliki.
Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita bagaimana saya berupaya membantu teman
kelas kursus bahasa jerman yang berasal dari negara Slovenia. Saya pun
menggunakan google translate saat saya menyampaikan tugas pekerjaan rumah yang
kemudian saya kirim lewat email. Meski tidak seratus persen terjemahan itu
benar tapi ia cukup mengerti pesan yang saya sampaikan.
Lain lagi saat saya kedatangan teman dari
RRC yang hanya bisa bahasa ibu dan kami bersahabat untuk bertukar informasi
satu sama lain. Saya tidak bisa bahasa mandarin. Dia tidak bisa bahasa Inggris
dan sedikit mengerti bahasa Indonesia. Saya terkesan sekali saat kami merayakan
hari ulang tahun bersama, saling mentraktir dan berkomunikasi dengan berbagai
macam cara seperti menulis, gerakan tangan, menggambar, ekspresi muka hingga
menggunakan alat peraga. Intinya adalah kita harus saling mendengarkan satu sama
lain agar komunikasi terkesan “nyambung”.
Beberapa kali saya kesasar di negara orang
pun, bekal saya dalam berkomunikasi dengan bahasa sebagai hambatan yakni
membawa kamus, alat tulis, kertas, kalkukator dan alamat kita tinggal.
6. Hambatan kecakapan teknologi
Dalam suatu
pertemuan mediasi komunikasi orangtua dan anak di suatu sekolah, saya
menampilkan slide show tentang sms seorang ABG remaja kepada kekasihnya dengan
menggunakan kalimat atau kata-kata slank atau bahasa Alay. Bahasa Alay
menggunakan huruf besar dan huruf kecil dalam satu kata juga cenderung tidak
lengkap sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Apa yang terjadi? Orangtua
tidak bisa menangkap pesan SMS tersebut.
Kecakapan teknologi lainnya seperti
penggunaan fitur-fitur handphone pintar yang tidak semua orang bisa
menggunakannya.
Saya pernah mengalami hambatan komunikasi
saat tawar menawar membeli sovenir. Jurus komunikasi saya cuma satu dalam tawar
menawar, yakni bawa kalkulator. Saat sedang tawar menawar kalkulator di HP saya
habis baterai. Atau, mau menggunakan google translate tetapi baterai HP mati.
7. Hambatan lingkungan alam dan kondisi
sekitar.
Hal ini bisa mudah
ditemui semisal kita menjadi salah menangkap maksud komunikasi karena suara
yang bising atau polusi suara.
Lingkungan alam lain misalnya letak atau
jarak pengirim pesan dengan penerima pesan yang berjauhan menyebabkan informasi
tidak diterima dengan jelas.
Kita juga misalnya akan berbicara dengan
pelan saat malam hari, waktu tidur. Atau waktu tidur siang di beberapa negara
Eropa, orang sekitar diharapkan tidak menimbulkan kegaduhan suara. Sehingga
kita cenderung berbisik atau bersuara pelan jika berbicara.
D.
Definisi Komunikasi Interpersonal
Komunikasi
interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, dimana
pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat
menerima dan menanggapi secara langsung pula. Kebanyajan komunikasi
interpersonal berbentuk verbal disertai ungkapan-ungkapan nonverbal dan
dilakukan secara lian.
PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN
A.
Definisi Pelatihan
Menurut peraturan pemerintah R.I. nomor 71 tahun 1991 dikemukakan bahwa
pelatihan (pelatihan kerja) adalah keseluruhan kegiatan untuk memberikan,
memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan keterampilan, produktivitas,
disiplin, sikap kerja, dan etos kerja pada tingkat keterampilan tertentu yang pelaksanaannya
lebih mengutamakan prakterk daripada teori.
B.
Tujuan dan sasaran pelatihan
Tujuan dari
pelatihan ini adalah untuk memberikan suatu pendahuluan manajemen arsip dinamis
dan statis, serta preservasi.
Sasaran dari
pelatihan ini adalah untuk memberikan metode terbaru dari pembuatan daftar dan
penyediaan akses terhadap arsip.
C.
Perbedaan pelatihan dan pengembangan
Pelatihan dan
pengembangan merupakan dua konsep yang sama yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Tetapi dilihat dari tujuannya,
umumnya kedua konsep tersebut dapat dibedakan. Pelatihan lebih ditekankan pada
peningkatan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang spesifik saat ini, dan
pengembangan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan
pekerjaan pada masa yang akan dating, yang dilakukan melalui pendekatan yang
terintegrasi dengan kegiatan lain untuk mengubah perilaku kerja.
D.
Faktor psikologi dalam pelatihan dan
pengembangan
David McClelland
(1961) mencoba menjelaskan suatu lingkungan psikologis yang mempengaruhi
perilaku individu unutk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermuara pasa
akumulasi kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi. McClelland menyatakan bahwa
Nedd for Achievement dimanifestasikan kedalam beberapa gaya hidup, yaitu:
1. Dorongan untuk selalu mengambil resiko
(risk-taking).
2. Kemauan untuk bekerja keras dalam upaya
untuk mencapai suatu tujuan.
3. Kecenderungan untuk memiliki rasa
tanggung jawab pribadi yang tinggi.
4. Dorongan untuk memperdalam pengetahuan
tentang tujuan-tujuan konkret suatu kegiatan
yang diperlukan dalam rangka penyusunan target.
5. Pengusaha dengan Nedd for Achievement
biasanya memiliki naluri dan kapabilitas untuk membuat rencana jangka panjang
dan cara mengorganisasi perusahaan yang dipimpinnya.
Jadi McClelland melihat kepada
faktor psikologis individu yang dibentuk oleh lingkungan dimana dia dilahirkan
dan dibesarkkan sebagai factor dominan yang menentukan perilaku ekonomi.
E.
Tekhnikk dan metode pelatihan
Ada beberapa tenik yang bias
digunakan dalam pelatihan dan
pengembangan, yaitu:
1. On the job training
- Job instruction training (JIT)
- Job rotation
- Apprenticeships (magang)
- Coaching
2. Off the job training
- Lecture/kuliah mimbar
- Vestibule training
- Role playing
- Behavior modeling
- Case study
- Simulation
- Self
study
- Programmed
learning
- Laboratory
training (latihan dalam laboraturium)
Hadiwinata, Bob. S. (2002). Politik Bisnis Internasional.
Jogjakarta: Kanisius.
Hariandja, Marihot T.E. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
PT Grasindo.
Sirait, Justine T. Memahami
Aspek-Aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. Grasindo.
Sukoco, Badri M. (2007). Manajemen Administras Perkantoran Modern.
Penerbit Erlangga.
Suprapto, Tommy. (2009), Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi.
Jogjakarta: MedPress.