Nama : PUTRI ALIFIA
NPM :
15512752
KELAS : 3PA06
Rational Emotive
Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun
1960-an oleh Albert Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik
yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini
dikembangkanya ketika Ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem
psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif
ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang klasik (termasuk
Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization). Oleh karena
itu Ellis menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau
Comprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.
Konsep-Konsep Utama
Terapi rasional emotif
(TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia
dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk
berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki
kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan
mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan
mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki
kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran,
berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan,
takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari
pertumbuhan dan aktualisasi diri.
Terapi rasional emotif
menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi
aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan
pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk
mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat,
dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang
diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.
TRE menekankan bahwa manusia
berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi
tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas
suatu situasi yang spesifik.
Menurut Allbert Ellis,
manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan
didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan
memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah
pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara
tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi
kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka
akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau.
Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah,
mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.
TRE dimulai dengan ABC:
A: Activating
experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti
kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa
kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penyebab ketidak bahagiaan.
B: Beliefs,
yaitu keyakinan-keyakinan, terutama yang bersifat irasional dan
merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita.
C: Consequence,
yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan
emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang
bersumber dari keyakinan- keyakinan kita yang keliru.
Sebuah pernyataan yang
humanis dari Albert Ellis “Acceptance is not love. You love a person
because he or she has lovable traits, but you accept everybody just be
cause they're alive and human” (Penerimaan bukan cinta. Anda
mencintai seseorang karena dia memiliki sifat menyenangkan, tapi Anda menerima
semua orang hanya karena mereka hidup dan manusia).
Pandangan pendekatan
rasional emotif tentang kepribadian Albert Ellis, dapat dikaji dari
konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Ada tiga pilar yang membangun
tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B),
dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang
kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap
peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu
yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian
suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan
merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu
keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional
belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau
system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi
prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system
berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak
produktif.
Emotional consequence (C) merupakan
konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan
senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi
emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa
variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga
menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute;
D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak
(effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Albert Ellis juga
menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu
menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan
irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut.
Dalam menjelaskan
teorinya tentang Rasional Emotif terapi, Albert Ellis mempunyai pendekatan
sebagai berikut:
· Teori TRE mementingkan tiga aspek utama yaitu kognitif, emosi dan aspek
tingkah laku.
· Memberi penekanan kepada pemikiran,penganalisaan, penilaian, perlakuan dan
membuat keputusan.
· Pendekatan teori ini bercorak deduktif atau mengajar, mengarah dan
mengutamakan kepada pemikiran daripada kepercayaan yang tidak rasional.
· Kepercayaan ini perlu dicabar dan diperbetulkan supaya dapat mewujudkan
sistem kepercayaan yang baik dan rasional.
· Prinsip terapi TRE boleh digunakan kepada masalah sekarang, masalah yang
lain dalam kehidupan dan juga masalah yang mungkin dihadapi pada masa akan
datang.
· Fokus prinsip ini adalah kepada pemikirandan tindakan, bukan hanya
mengikuti perasaan.
· Terapi ini dianggap sebagai satu proses pembelajaran kerana fungsi konselor
yang berbeda- beda.
· Teori Ellis ini berasaskan bahwa individu-individu mempunyai usaha untuk
bertindak sama dan dalam bentuk rasional maupun tidak rasional.
T Teknik-teknik konseling
Pendekatan REBT menggunakan berbagai teknik yang
bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi
konseli.
a. Teknik-teknik Kognitif
- Disputing
irrational beliefs : konseling secara aktif mempersoalkan
keyakinan tidak rasional dan konselormengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya
sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam dirinya.
- Doing
cognitive homework : Konseli membuat daftar masalah mereka,
mencari keyakinan absolut mereka, dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan
tersebut.
- Changing
one’s language : Konseli mempelajari bagaimana menyatakan bahasa
yang tepat agar tidak terjadi pemikiran dan perilaku yang disfungsional.
- Psychoeducational
methods : Memperkenalkan konseli dengan berbagai macam komponen
pendidikan dan membelajarkan konseli tentang hakikat permasalahan mereka dan
bagaimana proses mengatasinya.
b. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
- Rational
emotive imagery : Konseli didorong untuk membayangkan salah satu
kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya dan
mebayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah
masalah ke dalam hidupnya.
- Using
humor : Penggunaan humor dapat membantu mengurangi keyakinan-keyakinan
irasional dan perilaku self-defeating. Humor bisa sangat berharga
untuk membantu konseli lebih santai dan tidak menganggap terlalu serius masalah
hidup.
- Role
playing : Konselor menginterupsi untuk menunjukkan pada konseli bahwa
apa yang mereka katakan sendiri pada konseli untuk mengubah perasaan yang tidak
sehat menjadi perasaan yang lebih sehat
- Shame-attacking
exercises : Latihan untuk membantu orang mengurangi perasaan malu
dalam melakukan sesuatu yang. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan
penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli memamndang bahwa
sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu berkaitan dengan cara mereka
mengenali kenyataan.
- Use
of force and vigor : Penggunaan kekuatan dan energi sebagai salah satu
cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual menjadi
berwawasan emosional.
c. Teknik-teknik Behavioristik
Teknik ini konselor
menggunakan prosedur behavioral standar, seperti pengkondisian
operant, prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi, dan permodelan.
SUMBER :
(Corey,
Gerald. 1999. Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi. Bandung: Refika
Aditama., Surya Mohammad. Dasar-dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori).
Kota Kembang: Yogyakarta ,1988.)